Antara
Bahagia dan Kecewa
Ketika
kita mencintai seseorang apakah memilikinya adalah sebuah keharusan
apa sebuah keegoisan? aku rasa itu hanyalah sebuah keegoisan dan
nafsu semata. Karna sebuah cinta yg sangat amat tulus ialah cinta
yang bisa merelakan seseorang yang ia cintai bersama dengan orang
lain. Walaupun itu semua sangatlah sulit.
Dulu aku pernah mencintai seseorang. Dialah pria yang pernah aku kagumi. Aku tidak bisa membedakan apakah ini sebuah rasa kagum semata ataukah cinta. apapun itu, yang jelas aku sangat menyukainya pada waktu itu, tetapi aku menyembunyikan perasaan itu dalam diam.
Hingga suatu ketika,
sahabatku yaitu teman sebangkuku menceritakan sesuatu. Kami memang
sudah sangat dekat, tidak heran jika kami saling bertukar cerita satu
sama lain. Dia menceritakan bahwa akhir akhir ini dia sedang dekat
dengan seseorang dan mendapat sebuah hadiah darinya.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa pria yang ia ceritakan itu adalah pria yang sama yang selama ini aku sukai . Perasaanku bercampur aduk ketika sahabatku mengatakan bahwa kemarin ia baru saja resmi berpacaran dengan pria itu. saat itu aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau kecewa. Di sisi lain dia adalah sahabatku, maka jika sahabatku bahagia maka sepatutnya aku juga harus ikut bahagia. Tetapi, di sisi lain dia berpacaran dengan pria yang aku sukai dan kagumi. Tentu saja semua itu membuat aku dilema.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa pria yang ia ceritakan itu adalah pria yang sama yang selama ini aku sukai . Perasaanku bercampur aduk ketika sahabatku mengatakan bahwa kemarin ia baru saja resmi berpacaran dengan pria itu. saat itu aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau kecewa. Di sisi lain dia adalah sahabatku, maka jika sahabatku bahagia maka sepatutnya aku juga harus ikut bahagia. Tetapi, di sisi lain dia berpacaran dengan pria yang aku sukai dan kagumi. Tentu saja semua itu membuat aku dilema.
Selama
itu aku putuskan untuk tidak memberi tahu yang sebenarnya pada
sahabatku itu. Walau seharusnya aku menceritakan yang sebenarnya
padanya. Kata orang, sahabat yang baik tidak akan menyembunyikan
apapun dari sahabatnya sendiri, tetapi Aku lebih memilih diam dan
berpura pura bahagia, walaupun hatiku sangat terluka. Salahkah aku
jika aku menyukai pacar sahabatku sendiri? Aku tidak tau itu,tapi
yang jelas aku menyukainya jauh sebelum sahabatku mengenalnya.
Hari demi hari pun berlalu, semua berlalu dengan dihiasi berbagai cerita cerita manis mereka, yang mungkin terasa sangat pahit bagiku. Cerita yang harus aku dengar dari mulut sahabatku itu setiap hari. Untunglah hatiku kuat, menghadapi semua itu.
seiring berjalannya waktu, telinga dan hatiku ini sudah mulai kuat untuk mendengar semua cerita mereka dan menerima kenyataan bahwa pria itu mungkin tidak pantas untukku.
Hari demi hari pun berlalu, semua berlalu dengan dihiasi berbagai cerita cerita manis mereka, yang mungkin terasa sangat pahit bagiku. Cerita yang harus aku dengar dari mulut sahabatku itu setiap hari. Untunglah hatiku kuat, menghadapi semua itu.
seiring berjalannya waktu, telinga dan hatiku ini sudah mulai kuat untuk mendengar semua cerita mereka dan menerima kenyataan bahwa pria itu mungkin tidak pantas untukku.
Aku
percaya, bahwa Allah telah merencanakan hal yang lebih indah daripada
itu. Hatiku perlahan lahan sudah mulai bisa mengikhlaskannya. Karena
ketahuilah butuh waktu dan tenaga ekstra untuk mengusir semua
perasaan itu. Ketika perasaan itu terlintas kembali, maka rasa
sakitlah yang kerap datang.Hingga suatu ketika aku di pertemukan
dengan sesorang, seseorang yang bisa menyembuhkan rasa sakit itu. Dia
datang dengan sebuah senyuman yang membuat bunga kering pun segar
kembali. Dialah orang yang mencintaiku dengan apa adanya. Dialah
orang yang membuatku merasa di cintai dan di hargai.Dengan semua
itu,semua dukaku terhapuskan.
Jangan lupa komen ya guys! thanks :)


